PSIKOLOGI PENDIDIKAN Gaya Belajar dan Implikasinya dalam Pendidikan
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Belajar
merupakan aktifitas transfer ilmu, dari belum tahu menjadi tahu. Setiap siswa
tentunya memiliki cara tersendiri untuk memahami suatu informasi yang
disampaikan. Mereka mempunyai cara belajar yang berbeda-beda, ada yang hanya
dapat belajar dengan cara membaca disuasana yang tenang, belajar sambal
mendengarkan lagu, atau belajar sambil mempraktikkan langsung, dan masih banyak
sekali cara belajar yang mereka lakukan agar informasi dapat diterima otak.
Gaya
belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana ia menyerap, kemudian mengatur
serta mengolah informasi. Gaya belajar bukan hanya berupa aspek ketika
menghadapi informasi, melihat, mendengar, menulis, dan berkata tetapi juga
melihat aspek pemprosesan informasi sekunsial, analitik, global atau otak kiri
otak kanan, aspek lain adalah ketika merespon sesuatu atas lingkungan belajar
(diserap secara abstrak dan konkret).
Dengan hal
ini peran seorang guru dalam meningkatkan belajar siswa dengan mengetahui dan
memahami bentuk-bentuk gaya belajar siswa, sehingga tujuan pendidikan dapat
tercapai.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa saja macam-macam gaya belajar?
2. Apa saja ciri-ciri gaya belajar?
3. Bagaimana strategi yang diperlukan
dalam gaya belajar yang baik?
4. Bagaimana implikasi gaya belajar
dalam pendidikan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui macam-macam gaya
belajar.
2. Untuk mengetahui ciri-ciri gaya
belajar.
3. Untuk mengetahui strategi yang
diperlukan dalam gaya belajar yang baik.
4. Untuk mengetahui implikasi gaya
belajar dalam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Gaya Belajar
Setiap manusia yang
lahir ke dunia ini selalu berbeda satu sama lainnya. Baik bentuk fisik, tingkah
laku, sifat, maupun berbagai kebiasaan lainnya. Tidak ada satupun manusia yang
memiliki bentuk fisik, tingkah laku, dan sifat yang sama walaupun kembar
sekalipun. Suatu hal yang perlu kita ketahui bersama adalah bahwa setiap
manusia memiliki cara menyerap dan mengolah informasi yang diterimanya dengan
cara yang berbeda satu sama lainnya. Ini sangat
tergantung pada gaya belajarnya. Seperti yang dijelaskan oleh Hamzah B. Uno, bahwa pepatah mengatakan lain lading, lain ikannya, lain orang, lain pula gaya belajarnya. Peribahasa tersebut memang pas untuk menjelaskan fenomena bahwa tak semua orang punya gaya belajar yang sama. Termasuk apabila mereka bersewkolah di sekolah yang sama atau bahkan duduk di kelas yang sama.[1]
tergantung pada gaya belajarnya. Seperti yang dijelaskan oleh Hamzah B. Uno, bahwa pepatah mengatakan lain lading, lain ikannya, lain orang, lain pula gaya belajarnya. Peribahasa tersebut memang pas untuk menjelaskan fenomena bahwa tak semua orang punya gaya belajar yang sama. Termasuk apabila mereka bersewkolah di sekolah yang sama atau bahkan duduk di kelas yang sama.[1]
Berdasarkan Sukardi,
bahwa gaya belajar yaitu kombinasi antara cara seseorang dalam menyerap
pengetahuan dan cara meangatur serta mengolah informasi atau pengetahuan yang
di dapat. Sedangkan menurut S. Nasution, gaya belajar adalah cara yang
konsisten ynag dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau
informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan soal.
Menurut Deporter &
Hernacki, gaya belajar merupakan suatu kombinasi dan bagaimana ia menyerap, dan
kemudian mengatur serta mengolah informasi.
Willing mendefinisikan,
gaya belajar sebagai kebiasaan belajar yang disenangi oleh pembelajar. Keefe
memandang gaya belajar sebagai cara seseorang dalam menerima, berinteraksi, dan
memandang lingkungannya.
Walaupun masing-masing
peneliti menggunakan istilah yang berbeda dan menemukan berbagai cara untuk
mengatasi gaya belajar seseorang, telah disepakati secara umum adanya dua
kategori utama tentang bagaimana kita belajar. Pertama, bagaimana kita menyerap
informasi dengan mudah (modalitas). Kedua, cara kita mengatur dan mengolah
informasi tersebut (dominasi otak). Selanjutnya, jika seseorang telah akrab
dengan gaya belajarnya sendiri, maka dia dapat membantu dirinya sendiri dalam
belajar lebih cepat dan lebih mudah.[2]
Seluruh definisi gaya
belajar di atas tampak tidak ada yang
bertentangan, melainkan memiliki kemiripan antara yang satu dengan yang
lainnya. Definisi-definisi gaya belajar tersebut secara subtansial tampak
saling melengkapi. Berdasarkan keterangan-keterangan di atas maka
penulis mengambil kesimpulan bahwa gaya belajar yaitu suatu cara pandangan pribadi terhadap peristiwa yang dilihat dan di alami. Oleh
karena itulah pemahaman, pemikiran, dan pandangan seorang anak dengan
anak yang lain dapat berbeda, walaupun kedua anak tersebut tumbuh pada
kondisi dan lingkungan yang sama, serta mendapat perlakuan yang sama.
bertentangan, melainkan memiliki kemiripan antara yang satu dengan yang
lainnya. Definisi-definisi gaya belajar tersebut secara subtansial tampak
saling melengkapi. Berdasarkan keterangan-keterangan di atas maka
penulis mengambil kesimpulan bahwa gaya belajar yaitu suatu cara pandangan pribadi terhadap peristiwa yang dilihat dan di alami. Oleh
karena itulah pemahaman, pemikiran, dan pandangan seorang anak dengan
anak yang lain dapat berbeda, walaupun kedua anak tersebut tumbuh pada
kondisi dan lingkungan yang sama, serta mendapat perlakuan yang sama.
2. Macam-macam
Gaya Belajar
Sebelum
memberikan pelajaran seorang guru seharusnya memahami gaya belajar siswanya.
Seorang siswa bisa lebih mudah memahami
pelajaran jika sesuai dengan hatinya dan menyenangkan. Menurut Bobbi De Poter
& Mike Hernacki secara umum gaya belajar
manusia dibedakan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu gaya belajar visual, gaya belajar
auditorial dan gaya belajar kinestetik.[3]
1.
Gaya
Belajar Visual
Menurut
Bobbi De Poter & Mike Hernacki yang dikutip oleh Sukadi, berdasarkan arti katanya,
Gaya belajar visual adalah gaya belajar dengan cara melihat,
mengamati, memandang, dan sejenisnya. Kekuatan
gaya belajar ini terletak pada indera penglihatan. Bagi orang yang memiliki gaya ini, mata adalah
alat yang paling peka untuk menangkap
setiap gejala atau stimulus (rangsangan) belajar. Orang dengan gaya belajar
visual senang mengikuti ilustrasi, membaca
instruksi, mengamati gambar-gambar, meninjau kejadian secara langsung.[4]
Gaya
belajar visual adalah gaya belajar dengan cara melihat sehingga mata sangat memegang
peranan penting. Gaya belajar secara visual
dilakukan seseorang untuk memperolah informasi seperti melihat gambar, giagram, peta,
poster, grafik, dan sebagainya. Bisa juga
dengan melihat data teks seperti tulisan dan huruf. Seorang yang bertipe visual
ini, akan cepat mempelajari bahanbahan yang disajikan secara tertulis, bagan,
grafik, gambar. mudah mempelajari bahan pelajaran yang dapat dilihat dengan
alat penglihatannya. Sebaliknya merasa
sulit belajar apabila dihadapkan bahan-bahan
bentuk suara, atau gerakan.
2.
Gaya
Belajar Auditorial
Gaya
belajar auditorial adalah gaya belajar dengan cara mendengar. Orang dengan gaya belajar
ini, lebih dominan dalam menggunakan
indera pendengaran untuk melakukan aktivitas belajar. Dengan kata lain, ia mudah belajar,
mudah menangkap stimulus atau rangsangan apabila melalui alat indera
pendengaran (telinga). Orang dengan
gaya belajar auditorial memiliki kekuatan pada kemampuannya untuk mendengar. Oleh
karena itu, mereka sangat mengandalkan telinganya untuk mencapai kesuksesan belajar,
misalnya dengan cara mendengar seperti ceramah,
radio, berdialog, dan berdiskusi. Anak yang bertipe auditorial, mudah
mempelajari bahan-bahan yang
disajikan dalam bentuk suara (ceramah), begitu guru menerangkan ia cepat menangkap bahan
pelajaran, disamping itu kata dari
teman (diskusi) atau suara radio/casette ia mudah menangkapnya. Pelajaran yang disajikan dalam
bentuk tulisan, perabaan, gerakangerakan yang ia mengalami kesulitan.[5]
3.
Gaya
belajar Kinestetik
Gaya
belajar kinestetik adalah gaya belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh. Maksudnya
ialah belajar dengan mengutamakan indera perasa dan gerakan-gerakan fisik.
Orang dengan gaya belajar ini lebih mudah
menangkap pelajaran apabila ia bergerak,
meraba, atau mengambil tindakan. Misalnya, ia baru memahami makna halus apabila indera
perasanya telah merasakan benda
yang halus.[6] Individu
yang bertipe ini, mudah mempelajari bahan yang berupa tulisan-tulisan, gerakan-gerakan,
dan sulit mempelajari bahan yang berupa
suara atau penglihatan. Selain itu, belajar secara kinestetik berhubungan dengan praktik atau
pengalaman belajar secara langsung.
Oleh karena
itu, Guru menyadari bahwa setiap peserta didik mempunyai macam-macam cara yang optimal dalam mempelajari informasi
yang baru. Cara- cara yang digunakan
peserta didik berbeda tergantung pada teori belajar yang disukai dan gaya belajar yang
variatif. Setiap peserta didik memiliki gaya belajar tersendiri yang dipengaruhi
oleh faktor-faktor fisik, emosional, sosiologis
dan lingkungan. Apapun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar menunjukkan cara tercepat
dan terbaik bagi setiap peserta didik untuk
menyerap informasi dari luar dirinya. Sebagian peserta didik dapat
belajar paling baik dengan
pencahayaan yang terang, sedang sebagian yang
lain dengan cara berkelompok. Ada peserta didik yang dapat belajar
dengan baik karena adanya figur
otoriter dari orang tua, guru, dan ada yang
merasa dengan belajar sendirilah merupakan cara paling efektif untuk memproses informasi bagi
mereka. Pola seperti ini menurut Deporter
dan Mike diistilahkan dengan “Gaya belajar”.[7]
3.
Ciri-ciri Gaya
Belajar
Pada dasarnya,
dalam diri setiap manusia terdapat tiga gaya belajar. Akan tetapi ada di antara
gaya belajar yang paling menonjol pada diri seseorang. Disini peneliti membahas
tiga ciri gaya belajar, yaitu ciri belajar visual, auditorial dan kinestetik. Menurut De
Porter dan Hernacki seperti yang dikutip oleh Muhammad Indra dan Novan Ardy
Wiyani, gaya belajar berdasarkan modalitas indra adalah mengenali modalitas
seseorang dalam belajar sebagai modalitas visual, auditosial atau kinestetik
(V-A-K).
Individu dengan
gaya belajar visual akan lebih cepat belajar dengan cara melihat misalnya
dengan membaca buku, melihat dan mengamati demonstrasi, atau melihat
materi pelajaran yang disajikan dalam
bentuk vidio. Individu dengan gaya belajar auditorial cenderung akan lebih mudah dalam
belajar dengan cara mendengarkan. Misalnya, mereka lebih suka model
pembelajaran ceramah, diskusi dan tanya jawab. Sementara, individu dengan gaya
belajar kinestetik akan belajar dengan lebih baik bila disertai dengan
gerakan-gerakan fisik. Misalnya,
belajar sambil berjalan-jalan, menggerakan
kaki atau tangan serta bentuk-bentuk pembelajaran yang memerlukan
aktivitas fisik.
Orang-orang Visual memiliki
ciri sebagai berikut :
1)
Senang kerapian dan ketrampilan.
2)
Jika berbicara cenderung lebih cepat.
3)
Ia suka membuat perencanaan yang matang untuk
jangka
panjang.
panjang.
4)
Sangat teliti sampai ke hal-hal yang detail
sifatnya.
5)
Lebih mudah mengingat apa yang di lihat, dari
pada yang di
dengar.
dengar.
6)
Mengingat sesuatu dengan penggambaran (asosiasi)
visual.
7)
Lebih suka membaca sendiri dari pada dibacakan
orang lain.
8)
Tidak mudah yakin atau percaya terhadap setiap
masalah atau
proyek sebelum secara mental merasa pasti.
proyek sebelum secara mental merasa pasti.
9)
Lebih suka melakukan pertunjukan (demonstrasi)
dari pada
berpidato.
berpidato.
10) Lebih menyukai seni dari
pada musik.
Orang-orang Auditorial memiliki ciri
sebagai berikut :
1)
lebih
menggunakan indera pendengaran.
2) Mudah terganggu oleh
keributan atau hiruk pikuk disekitarnya.
3)
Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
sesuatu.
Merasa kesulitan untuk menulis tetapi mudah dalam bercerita.
Biasanya ia adalah pembicara yang fasih.
Merasa kesulitan untuk menulis tetapi mudah dalam bercerita.
Biasanya ia adalah pembicara yang fasih.
4)
Lebih mudah belajar dengan mendengarkan dan
mengingat apa
yang didiskusikan.
yang didiskusikan.
5) Suka berbicara,
berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu dengan
panjang lebar.
panjang lebar.
Orang-orang Kinestetik memiliki ciri
sebagai berikut :
1)
Berbicara
dengan perlahan.
2)
Menyentuh
orang untuk mendapatkan perhatian mereka.
3)
Menghafal
dengan cara berjalan dan melihat.
4)
Banyak
menggunakan isyarat tubuh.
5)
Tidak
dapat duduk diam untuk waktu lama.
4.
Strategi Yang
Di Perlukan Dalam Gaya Belajar
a.
Strategi untuk mempermudah gaya belajar visual
Secara sederhana kita dapat
menyesuaikan cara mengajar kita dengan gaya belajar siswa, diantaranya untuk
siswa visual:
1)
Gunakan kertas tulis dengan tulisan berwarna dari pada papan
tulis. Lalu gantunglah grafik berisi informasi penting di sekeliling ruangan
pada saat anda menyajikannya dan rujuklahkembali grafik itu nanti.
2)
Dorong siswa untuk menggambarkan informasi, bergeraklah
diantara segmen.
3)
Berdiri tenang saat penyajian segmen informasi, bergeraklah
diantara segmen.
4)
Bagikan Salinan frase-frase kunci atau garis besar
pelajaran, sisakan ruang kosong untuk catatan.
5)
Beri kode warna untuk bahan pelajaran dan perlengkapan,
dorong siswa menyusun pelajaran mereka dengan aneka warna.
6)
Gunakan bahan ikon dalam presentasi anda, dengan menciptakan
symbol visual atau ikon yang mewakili konsep kunci.[9]
b.
Strategi untuk mempermudah gaya belajar auditorial
Secara sederhana kita dapat
menyesuaikan cara mengajar kita dengan gaya belajar siswa, diantaranya untuk
siswa auditorial adalah:
1)
Gunakan variasi vocal(perubahan nada, kecepatan dan volume)
dalam presentasi.
2)
Ajarkan sesuai dengan cara anda menguji: jika anda
menyajikan informasi dalam urutan atau format tertentu, ujilah informasi itu
dengan cara yang sama.
3)
Gunakan pengulangan, minta siswa menyebutkan kembali konsep
kunci dan petunjuk.
4)
Setelah tiap segmen pengajaran, minta siswa memberi tahu
teman disebelahnya satu hal yang dia pelajari.
5)
Nyanyikan konsep kunci atau minta siswa mengarang lagu/rap
mengenai konsep itu.
6)
Kembangkan dan dorong siswa untuk memikirkan jembatan
keledai untuk menghafal konsep kunci.
7)
Gunakan music sebagai aba-aba untuk kegiatan rutin.
c.
Strategi untuk mempermudah gaya belajar kinestetik
Secara sederhana kita dapat
menyesuaikan cara mengajar kita dengan gaya belajar siswa, diantaranya untuk
siswa kinestetik adalah:
1)
Gunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa
ingin tahu dan menekankan konsep-konsep kunci.
2)
Ciptakan simulasi konsep agar siswa mengalaminya.
3)
Jika bekerja dengan siswa perseorangan, berikan bimbingan
parallel dengan duduk di sebelah mereka, bukan di depan atau di belakang
mereka.
4)
Cobalah berbicara dengan setiap siswa secara pribadi setiap
hari, sekalipun hanya salam kepada para siswa saat mereka masuk atau “ ibu
senang kamu berpartisipasi” atau mereka keluar kelas.
5)
Peragakan konsep sambil memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mempelajarinyalangkah demi langkah.
6)
Ceritakan pengalaman pribadi mengenai wawasan belajar anda
kepada siswa, dan dorong mereka untuk melakukan hal yang sama.
Menurut
Rose dan Nichole” setiap orang belajar dengan cara yang berbeda-beda dan semua
cara sama baiknya.” Setiap cara mempunyai kekuatan sendiri-sendiri, namun dalam
kenyataannya kita semua memiliki ketiga gaya belajar itu, hanya saja biasanya
satu gaya yang mendominasi.
5. Implementasi
Gaya Belajar dalam Pendidikan
Belajar menurut Arthur
T. Jersild dalam buunya educatonal Psycology seperti diutip Ahmad thontowi adalah
“modification behavior through expereince and training”. Kesengajaan ini
tercermin pada adanya kesiapan, tujuan yang ingin dicapai dan dorongan
motivasi. Jadi belajar terjadi karena interaksi yang terus menerus antara anak
didik dengan lingkungannya secara sadar dan sengaja.. Dilihat dari siswa, siswa
bertujuan untuk mencapai sesuatu yang mempunyai arti baginya.[11] Karena itu, jika siswa belajar
sesuai dengan selera mereka sendiri, makamateri pelajaran bisa lebih mudah
diterima. Implikasi adanya gaya belajar siswa bagi seorang guru dalam proses
pembelajaran menurut Sugiyono dan Hariyanto secara garis besar ada dalam tiga
hal yaitu :[12]
a.
Perencanaan kurikulum
Pada tahap ini guru diharapkan memilih dan
memberikan materi pelajaran dengan memberi penekanan pada perasaan,
penginderaan, dan imajinasi siswa sebagai pelengkap dalam meningkatkan
ketrampilan menganalisis, menalar, dan memecahkan masalah secara urut dan
logis.
b.
Proses pengajaran
Untu tahap ini seorang guru diharapkan mampu merencanakan
metode dan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan gaya belajar siswa,
menggunakan berbagai kombinasi strategi pembelajaran, refleksi, konseptualisasi
dan eksperimentasi. Media yang digunakan dalam menyampaikan dan memberikan
unsur pengalaman melalui unsur bunyi-bunyian, musik, gambar visual, gerak,
pengalaman, percakapan bahkan aktivitas siswa itu sendiri.
c.
Strategi penilaian
Pada tahap ini, guru diharapkan menggunakan berbagai
teknik penilaian yang fokus pada pengembangan kemampuan siswa. Artinya,
disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan kapasitas otak dan kecenderungan
gaya belajar individu yang berbeda-beda.
BAB III
PENUTUP
Pengertian gaya belajar
adalah suatu cara pandangan pribadi terhadap peristiwa yang
dilihat dan di alami. Oleh karena itulah pemahaman,
pemikiran, dan pandangan seorang anak dengan
anak yang lain dapat
berbeda, walaupun kedua anak tersebut tumbuh pada
kondisi dan lingkungan
yang sama, serta mendapat perlakuan yang sama.
Macam-macam Gaya Belajar
:
1.
Gaya
Belajar Visual
2.
Gaya
Belajar Auditorial
3.
Gaya
belajar Kinestetik
Ciri-ciri Gaya Belajar
sebagai berikut :
Gaya Belajar Visual
1)
Mengingat sesuatu dengan penggambaran (asosiasi)
visual.
2)
Lebih suka membaca sendiri dari pada dibacakan
orang lain.
Gaya Belajar Auditorial
1)
lebih menggunakan indera pendengaran.
2)
Mudah terganggu oleh keributan atau hiruk pikuk
disekitarnya.
Gaya Belajar Kinestetik
1)
Tidak
dapat duduk diam untuk waktu lama.
2) Ingin melakukan segala sesuatu .
Strategi Yang
Di Perlukan Dalam Gaya Belajar
sebagai berikut :
Gaya Belajar Visual
Gunakan kertas tulis dengan tulisan berwarna dari pada papan
tulis. Lalu gantunglah grafik berisi informasi penting di sekeliling ruangan
pada saat anda menyajikannya dan rujuklahkembali grafik itu nanti.
Gaya Belajar Auditorial
Gunakan variasi vocal(perubahan nada, kecepatan dan volume)
dalam presentasi.
Gaya Belajar Kinestetik
Gunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa
ingin tahu dan menekankan konsep-konsep kunci.
Implementasi Gaya Belajar dalam
Pendidikan di bagi menjadi 3, yaitu:
Perencanaan
kurikulum
Pada tahap ini guru diharapkan memilih dan
memberikan materi pelajaran dengan memberi penekanan pada perasaan,
penginderaan, dan imajinasi siswa sebagai pelengkap dalam meningkatkan
ketrampilan menganalisis, menalar, dan memecahkan masalah secara urut dan
logis.
Proses
pengajaran
Untu tahap ini seorang guru diharapkan mampu merencanakan
metode dan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan gaya belajar siswa,
menggunakan berbagai kombinasi strategi pembelajaran, refleksi, konseptualisasi
dan eksperimentasi. Media yang digunakan dalam menyampaikan dan memberikan
unsur pengalaman melalui unsur bunyi-bunyian, musik, gambar visual, gerak,
pengalaman, percakapan bahkan aktivitas siswa itu sendiri.
Strategi
penilaian
Pada tahap ini, guru diharapkan menggunakan berbagai
teknik penilaian yang fokus pada pengembangan kemampuan siswa. Artinya,
disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan kapasitas otak dan kecenderungan
gaya belajar individu yang berbeda-beda.
Daftar Pustaka
Abu ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi
Belajar
Boby De
Porter. 2005. et. Al. Terjemah Ari Nilandari, Quantum Teaching Mempraktikkan
Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung: Kaifa
Gordon
Dryden dan Dr. Jeannette Vos. 2002. Revolusi Cara Belajar (the Learning
revolution): Belajar akan efektif kalau anda dalam keadaan “Fun”, (Bandung: Kaifa
revolution): Belajar akan efektif kalau anda dalam keadaan “Fun”, (Bandung: Kaifa
Inti
Anif Fujiati dan Sri Utami. 2014 Pengaruh Gaya Belajar Visual, Auditorial dan
Kinestetik Terhadap Kemampuan Analisis Siswa. Jurnal Edukasi Matematika dan
Sains, Vol. 2
Sugiyono
dan Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran : Teori dan Konsep Dasar, Remaja
Rosdakarya. Bandung
Sukadi, Progressive Learning,
Thontowi
Ahmad , 1993.Psikologi Pendidikan, Angkasa, Bandung, Cet. III
[1]
. Sugiyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran :
Teori dan Konsep Dasar, Remaja
Rosdakarya, Bandung, 2011, hal. 16-40.
Rosdakarya, Bandung, 2011, hal. 16-40.
[2]
. Bobby DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning:
Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan, hal. 110-111
Nyaman dan Menyenangkan, hal. 110-111
[7]
. Inti Anif Fujiati dan Sri Utami, Pengaruh Gaya Belajar
Visual, Auditorial dan Kinestetik
Terhadap Kemampuan Analisis Siswa, , Jurnal Edukasi Matematika dan Sains, Vol. 2, 2014, hal. 1.
Terhadap Kemampuan Analisis Siswa, , Jurnal Edukasi Matematika dan Sains, Vol. 2, 2014, hal. 1.
[8]
. Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar (the
Learning
revolution): Belajar akan efektif kalau anda dalam keadaan “Fun”, (Bandung: Kaifa, 2002) , hal.
364.
revolution): Belajar akan efektif kalau anda dalam keadaan “Fun”, (Bandung: Kaifa, 2002) , hal.
364.
[9]
Boby De Porter, et. Al. Terjemah Ari Nilandari, Quantum Teaching Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas,
(Bandung: Kaifa,2005), hlm. 85
[10]
Ibid., hlm.86
[11]
Ahmad Thontowi , Psikologi Pendidikan, Angkasa, Bandung, 1993, Cet. III, hal.
99-100.
bismillah, niat saya disini untuk membantu teman2 mohon komentar yang membangun dari kalian semua
BalasHapus