PSIKOLOGI PENDIDIKAN Gaya Belajar dan Implikasinya dalam Pendidikan

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Belajar merupakan aktifitas transfer ilmu, dari belum tahu menjadi tahu. Setiap siswa tentunya memiliki cara tersendiri untuk memahami suatu informasi yang disampaikan. Mereka mempunyai cara belajar yang berbeda-beda, ada yang hanya dapat belajar dengan cara membaca disuasana yang tenang, belajar sambal mendengarkan lagu, atau belajar sambil mempraktikkan langsung, dan masih banyak sekali cara belajar yang mereka lakukan agar informasi dapat diterima otak.
            Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana ia menyerap, kemudian mengatur serta mengolah informasi. Gaya belajar bukan hanya berupa aspek ketika menghadapi informasi, melihat, mendengar, menulis, dan berkata tetapi juga melihat aspek pemprosesan informasi sekunsial, analitik, global atau otak kiri otak kanan, aspek lain adalah ketika merespon sesuatu atas lingkungan belajar (diserap secara abstrak dan konkret).
            Dengan hal ini peran seorang guru dalam meningkatkan belajar siswa dengan mengetahui dan memahami bentuk-bentuk gaya belajar siswa, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja macam-macam gaya belajar?
2.      Apa saja ciri-ciri gaya belajar?
3.      Bagaimana strategi yang diperlukan dalam gaya belajar yang baik?
4.      Bagaimana implikasi gaya belajar dalam pendidikan?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui macam-macam gaya belajar.
2.      Untuk mengetahui ciri-ciri gaya belajar.
3.      Untuk mengetahui strategi yang diperlukan dalam gaya belajar yang baik.
4.      Untuk mengetahui implikasi gaya belajar dalam pendidikan.




BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Gaya Belajar
Setiap manusia yang lahir ke dunia ini selalu berbeda satu sama lainnya. Baik bentuk fisik, tingkah laku, sifat, maupun berbagai kebiasaan lainnya. Tidak ada satupun manusia yang memiliki bentuk fisik, tingkah laku, dan sifat yang sama walaupun kembar sekalipun. Suatu hal yang perlu kita ketahui bersama adalah bahwa setiap manusia memiliki cara menyerap dan mengolah informasi yang diterimanya dengan cara yang berbeda satu sama lainnya. Ini sangat
tergantung pada gaya belajarnya. Seperti yang dijelaskan oleh Hamzah B. Uno, bahwa pepatah mengatakan lain lading, lain ikannya, lain orang, lain pula gaya belajarnya. Peribahasa tersebut memang pas untuk menjelaskan fenomena bahwa tak semua orang punya gaya belajar yang sama. Termasuk apabila mereka bersewkolah di sekolah yang sama atau bahkan duduk di kelas yang sama.
[1]
Berdasarkan Sukardi, bahwa gaya belajar yaitu kombinasi antara cara seseorang dalam menyerap pengetahuan dan cara meangatur serta mengolah informasi atau pengetahuan yang di dapat. Sedangkan menurut S. Nasution, gaya belajar adalah cara yang konsisten ynag dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan soal.
Menurut Deporter & Hernacki, gaya belajar merupakan suatu kombinasi dan bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi.
Willing mendefinisikan, gaya belajar sebagai kebiasaan belajar yang disenangi oleh pembelajar. Keefe memandang gaya belajar sebagai cara seseorang dalam menerima, berinteraksi, dan memandang lingkungannya.
Walaupun masing-masing peneliti menggunakan istilah yang berbeda dan menemukan berbagai cara untuk mengatasi gaya belajar seseorang, telah disepakati secara umum adanya dua kategori utama tentang bagaimana kita belajar. Pertama, bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah (modalitas). Kedua, cara kita mengatur dan mengolah informasi tersebut (dominasi otak). Selanjutnya, jika seseorang telah akrab dengan gaya belajarnya sendiri, maka dia dapat membantu dirinya sendiri dalam belajar lebih cepat dan lebih mudah.[2]
Seluruh definisi gaya belajar di atas tampak tidak ada yang
bertentangan, melainkan memiliki kemiripan antara yang satu dengan yang
lainnya. Definisi-definisi gaya belajar tersebut secara subtansial tampak
saling melengkapi. Berdasarkan keterangan-keterangan di atas maka
penulis mengambil kesimpulan bahwa gaya belajar yaitu suatu cara
pandangan pribadi terhadap peristiwa yang dilihat dan di alami. Oleh
karena itulah pemahaman, pemikiran, dan pandangan seorang anak dengan
anak yang lain dapat berbeda, walaupun kedua anak tersebut tumbuh pada
kondisi dan lingkungan yang sama, serta mendapat perlakuan yang sama.
2.      Macam-macam Gaya Belajar
Sebelum memberikan pelajaran seorang guru seharusnya memahami gaya belajar siswanya. Seorang siswa bisa lebih mudah memahami pelajaran jika sesuai dengan hatinya dan menyenangkan. Menurut Bobbi De Poter & Mike Hernacki secara umum gaya belajar manusia dibedakan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditorial dan gaya belajar kinestetik.[3]
1.      Gaya Belajar Visual
Menurut Bobbi De Poter & Mike Hernacki yang dikutip oleh Sukadi, berdasarkan arti katanya,  Gaya belajar visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, mengamati, memandang, dan sejenisnya. Kekuatan gaya belajar ini terletak pada indera penglihatan. Bagi orang yang memiliki gaya ini, mata adalah alat yang paling peka untuk menangkap setiap gejala atau stimulus (rangsangan) belajar. Orang dengan gaya belajar visual senang mengikuti ilustrasi, membaca instruksi, mengamati gambar-gambar, meninjau kejadian secara langsung.[4]
Gaya belajar visual adalah gaya belajar dengan cara melihat sehingga mata sangat memegang peranan penting. Gaya belajar secara visual dilakukan seseorang untuk memperolah informasi seperti melihat gambar, giagram, peta, poster, grafik, dan sebagainya. Bisa juga dengan melihat data teks seperti tulisan dan huruf. Seorang yang bertipe visual ini, akan cepat mempelajari bahanbahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar. mudah mempelajari bahan pelajaran yang dapat dilihat dengan alat penglihatannya. Sebaliknya merasa sulit belajar apabila dihadapkan bahan-bahan bentuk suara, atau gerakan.
2.      Gaya Belajar Auditorial
Gaya belajar auditorial adalah gaya belajar dengan cara mendengar. Orang dengan gaya belajar ini, lebih dominan dalam menggunakan indera pendengaran untuk melakukan aktivitas belajar. Dengan kata lain, ia mudah belajar, mudah menangkap stimulus atau rangsangan apabila melalui alat indera pendengaran (telinga). Orang dengan gaya belajar auditorial memiliki kekuatan pada kemampuannya untuk mendengar. Oleh karena itu, mereka sangat mengandalkan telinganya untuk mencapai kesuksesan belajar, misalnya dengan cara mendengar seperti ceramah, radio, berdialog, dan berdiskusi. Anak yang bertipe auditorial, mudah mempelajari bahan-bahan yang disajikan dalam bentuk suara (ceramah), begitu guru menerangkan ia cepat menangkap bahan pelajaran, disamping itu kata dari teman (diskusi) atau suara radio/casette ia mudah menangkapnya. Pelajaran yang disajikan dalam bentuk tulisan, perabaan, gerakangerakan yang ia mengalami kesulitan.[5]
3.      Gaya belajar Kinestetik
Gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh. Maksudnya ialah belajar dengan mengutamakan indera perasa dan gerakan-gerakan fisik. Orang dengan gaya belajar ini lebih mudah menangkap pelajaran apabila ia bergerak, meraba, atau mengambil tindakan. Misalnya, ia baru memahami makna halus apabila indera perasanya telah merasakan benda yang halus.[6] Individu yang bertipe ini, mudah mempelajari bahan yang berupa tulisan-tulisan, gerakan-gerakan, dan sulit mempelajari bahan yang berupa suara atau penglihatan. Selain itu, belajar secara kinestetik berhubungan dengan praktik atau pengalaman belajar secara langsung.
Oleh karena itu, Guru menyadari bahwa setiap peserta didik mempunyai macam-macam cara yang optimal dalam mempelajari informasi yang baru. Cara- cara yang digunakan peserta didik berbeda tergantung pada teori belajar yang disukai dan gaya belajar yang variatif. Setiap peserta didik memiliki gaya belajar tersendiri yang dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik, emosional, sosiologis dan lingkungan. Apapun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap peserta didik untuk menyerap informasi dari luar dirinya. Sebagian peserta didik dapat belajar paling baik dengan pencahayaan yang terang, sedang sebagian yang lain dengan cara berkelompok. Ada peserta didik yang dapat belajar dengan baik karena adanya figur otoriter dari orang tua, guru, dan ada yang merasa dengan belajar sendirilah merupakan cara paling efektif untuk memproses informasi bagi mereka. Pola seperti ini menurut Deporter dan Mike diistilahkan dengan “Gaya belajar”.[7]
3.      Ciri-ciri Gaya Belajar
Pada dasarnya, dalam diri setiap manusia terdapat tiga gaya belajar. Akan tetapi ada di antara gaya belajar yang paling menonjol pada diri seseorang. Disini peneliti membahas tiga ciri gaya belajar, yaitu ciri belajar visual, auditorial dan kinestetik. Menurut De Porter dan Hernacki seperti yang dikutip oleh Muhammad Indra dan Novan Ardy Wiyani, gaya belajar berdasarkan modalitas indra adalah mengenali modalitas seseorang dalam belajar sebagai modalitas visual, auditosial atau kinestetik (V-A-K).
Individu dengan gaya belajar visual akan lebih cepat belajar dengan cara melihat misalnya dengan membaca buku, melihat dan mengamati demonstrasi, atau melihat materi pelajaran yang  disajikan dalam bentuk vidio. Individu dengan gaya belajar auditorial cenderung akan lebih mudah dalam belajar dengan cara mendengarkan. Misalnya, mereka lebih suka model pembelajaran ceramah, diskusi dan tanya jawab. Sementara, individu dengan gaya belajar kinestetik akan belajar dengan lebih baik bila disertai dengan gerakan-gerakan fisik. Misalnya, belajar sambil berjalan-jalan, menggerakan  kaki atau tangan serta bentuk-bentuk pembelajaran yang memerlukan aktivitas fisik.
Orang-orang Visual memiliki ciri sebagai berikut :
1)      Senang kerapian dan ketrampilan.
2)      Jika berbicara cenderung lebih cepat.
3)      Ia suka membuat perencanaan yang matang untuk jangka
panjang.
4)      Sangat teliti sampai ke hal-hal yang detail sifatnya.
5)      Lebih mudah mengingat apa yang di lihat, dari pada yang di
dengar.
6)      Mengingat sesuatu dengan penggambaran (asosiasi) visual.
7)      Lebih suka membaca sendiri dari pada dibacakan orang lain.
8)      Tidak mudah yakin atau percaya terhadap setiap masalah atau
proyek sebelum secara mental merasa pasti.
9)      Lebih suka melakukan pertunjukan (demonstrasi) dari pada
berpidato.
10)  Lebih menyukai seni dari pada musik.
Orang-orang Auditorial memiliki ciri sebagai berikut :
1)      lebih menggunakan indera pendengaran.
2)      Mudah terganggu oleh keributan atau hiruk pikuk disekitarnya.
3)      Senang membaca dengan keras dan mendengarkan sesuatu.
Merasa kesulitan untuk menulis tetapi mudah dalam bercerita.
Biasanya ia adalah pembicara yang fasih.
4)      Lebih mudah belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa
yang didiskusikan.
5)      Suka berbicara, berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu dengan
panjang lebar.
Orang-orang Kinestetik memiliki ciri sebagai berikut :
1)      Berbicara dengan perlahan.
2)      Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka.
3)      Menghafal dengan cara berjalan dan melihat.
4)      Banyak menggunakan isyarat tubuh.
5)      Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama.
6)      Ingin melakukan segala sesuatu.[8]
4.      Strategi Yang Di Perlukan Dalam Gaya Belajar
a.     Strategi untuk mempermudah gaya belajar visual
Secara sederhana kita dapat menyesuaikan cara mengajar kita dengan gaya belajar siswa, diantaranya untuk siswa visual:
1)        Gunakan kertas tulis dengan tulisan berwarna dari pada papan tulis. Lalu gantunglah grafik berisi informasi penting di sekeliling ruangan pada saat anda menyajikannya dan rujuklahkembali grafik itu nanti.
2)        Dorong siswa untuk menggambarkan informasi, bergeraklah diantara segmen.
3)        Berdiri tenang saat penyajian segmen informasi, bergeraklah diantara segmen.
4)        Bagikan Salinan frase-frase kunci atau garis besar pelajaran, sisakan ruang kosong untuk catatan.
5)        Beri kode warna untuk bahan pelajaran dan perlengkapan, dorong siswa menyusun pelajaran mereka dengan aneka warna.
6)        Gunakan bahan ikon dalam presentasi anda, dengan menciptakan symbol visual atau ikon yang mewakili konsep kunci.[9]
b.         Strategi untuk mempermudah gaya belajar auditorial
Secara sederhana kita dapat menyesuaikan cara mengajar kita dengan gaya belajar siswa, diantaranya untuk siswa auditorial adalah:
1)        Gunakan variasi vocal(perubahan nada, kecepatan dan volume) dalam presentasi.
2)        Ajarkan sesuai dengan cara anda menguji: jika anda menyajikan informasi dalam urutan atau format tertentu, ujilah informasi itu dengan cara yang sama.
3)        Gunakan pengulangan, minta siswa menyebutkan kembali konsep kunci dan petunjuk.
4)        Setelah tiap segmen pengajaran, minta siswa memberi tahu teman disebelahnya satu hal yang dia pelajari.
5)        Nyanyikan konsep kunci atau minta siswa mengarang lagu/rap mengenai konsep itu.
6)        Kembangkan dan dorong siswa untuk memikirkan jembatan keledai untuk menghafal konsep kunci.
7)        Gunakan music sebagai aba-aba untuk kegiatan rutin.
c.         Strategi untuk mempermudah gaya belajar kinestetik
Secara sederhana kita dapat menyesuaikan cara mengajar kita dengan gaya belajar siswa, diantaranya untuk siswa kinestetik adalah:
1)        Gunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan menekankan konsep-konsep kunci.
2)        Ciptakan simulasi konsep agar siswa mengalaminya.
3)        Jika bekerja dengan siswa perseorangan, berikan bimbingan parallel dengan duduk di sebelah mereka, bukan di depan atau di belakang mereka.
4)        Cobalah berbicara dengan setiap siswa secara pribadi setiap hari, sekalipun hanya salam kepada para siswa saat mereka masuk atau “ ibu senang kamu berpartisipasi” atau mereka keluar kelas.
5)        Peragakan konsep sambil memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajarinyalangkah demi langkah.
6)        Ceritakan pengalaman pribadi mengenai wawasan belajar anda kepada siswa, dan dorong mereka untuk melakukan hal yang sama.
7)        Izinkan siswa berjalan-jalan di kelas jika situasi memungkinkan.[10]
Menurut Rose dan Nichole” setiap orang belajar dengan cara yang berbeda-beda dan semua cara sama baiknya.” Setiap cara mempunyai kekuatan sendiri-sendiri, namun dalam kenyataannya kita semua memiliki ketiga gaya belajar itu, hanya saja biasanya satu gaya yang mendominasi.
5.      Implementasi Gaya Belajar dalam Pendidikan
Belajar menurut Arthur  T. Jersild dalam buunya educatonal Psycology   seperti diutip Ahmad thontowi adalah “modification behavior through expereince and training”. Kesengajaan ini tercermin pada adanya kesiapan, tujuan yang ingin dicapai dan dorongan motivasi. Jadi belajar terjadi karena interaksi yang terus menerus antara anak didik dengan lingkungannya secara sadar dan sengaja.. Dilihat dari siswa, siswa bertujuan untuk mencapai sesuatu yang mempunyai arti baginya.[11] Karena itu, jika siswa belajar sesuai dengan selera mereka sendiri, makamateri pelajaran bisa lebih mudah diterima. Implikasi adanya gaya belajar siswa bagi seorang guru dalam proses pembelajaran menurut Sugiyono dan Hariyanto secara garis besar ada dalam tiga hal yaitu :[12]
a.    Perencanaan kurikulum
Pada tahap ini guru diharapkan memilih dan memberikan materi pelajaran dengan memberi penekanan pada perasaan, penginderaan, dan imajinasi siswa sebagai pelengkap dalam meningkatkan ketrampilan menganalisis, menalar, dan memecahkan masalah secara urut dan logis.
b.    Proses pengajaran
Untu tahap ini seorang guru diharapkan mampu merencanakan metode dan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan gaya belajar siswa, menggunakan berbagai kombinasi strategi pembelajaran, refleksi, konseptualisasi dan eksperimentasi. Media yang digunakan dalam menyampaikan dan memberikan unsur pengalaman melalui unsur bunyi-bunyian, musik, gambar visual, gerak, pengalaman, percakapan bahkan aktivitas siswa itu sendiri. 
c.    Strategi penilaian
Pada tahap ini, guru diharapkan menggunakan berbagai teknik penilaian yang fokus pada pengembangan kemampuan siswa. Artinya, disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan kapasitas otak dan kecenderungan gaya belajar individu yang berbeda-beda. 



BAB III
PENUTUP
Pengertian gaya belajar adalah suatu cara pandangan pribadi terhadap peristiwa yang dilihat dan di alami. Oleh karena itulah pemahaman, pemikiran, dan pandangan seorang anak dengan anak yang lain dapat berbeda, walaupun kedua anak tersebut tumbuh pada kondisi dan lingkungan yang sama, serta mendapat perlakuan yang sama.
Macam-macam Gaya Belajar :
1.      Gaya Belajar Visual
2.      Gaya Belajar Auditorial
3.      Gaya belajar Kinestetik
Ciri-ciri Gaya Belajar sebagai berikut :
Gaya Belajar Visual
1)      Mengingat sesuatu dengan penggambaran (asosiasi) visual.
2)      Lebih suka membaca sendiri dari pada dibacakan orang lain.
Gaya Belajar Auditorial
1)      lebih menggunakan indera pendengaran.
2)      Mudah terganggu oleh keributan atau hiruk pikuk disekitarnya.
Gaya Belajar Kinestetik
1)      Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama.
2)      Ingin melakukan segala sesuatu .
Strategi Yang Di Perlukan Dalam Gaya Belajar sebagai berikut :
Gaya Belajar Visual
Gunakan kertas tulis dengan tulisan berwarna dari pada papan tulis. Lalu gantunglah grafik berisi informasi penting di sekeliling ruangan pada saat anda menyajikannya dan rujuklahkembali grafik itu nanti.
Gaya Belajar Auditorial
Gunakan variasi vocal(perubahan nada, kecepatan dan volume) dalam presentasi.
Gaya Belajar Kinestetik
Gunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan menekankan konsep-konsep kunci.
Implementasi Gaya Belajar dalam Pendidikan di bagi menjadi 3, yaitu:

Perencanaan kurikulum
Pada tahap ini guru diharapkan memilih dan memberikan materi pelajaran dengan memberi penekanan pada perasaan, penginderaan, dan imajinasi siswa sebagai pelengkap dalam meningkatkan ketrampilan menganalisis, menalar, dan memecahkan masalah secara urut dan logis.

Proses pengajaran
Untu tahap ini seorang guru diharapkan mampu merencanakan metode dan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan gaya belajar siswa, menggunakan berbagai kombinasi strategi pembelajaran, refleksi, konseptualisasi dan eksperimentasi. Media yang digunakan dalam menyampaikan dan memberikan unsur pengalaman melalui unsur bunyi-bunyian, musik, gambar visual, gerak, pengalaman, percakapan bahkan aktivitas siswa itu sendiri. 
Strategi penilaian
Pada tahap ini, guru diharapkan menggunakan berbagai teknik penilaian yang fokus pada pengembangan kemampuan siswa. Artinya, disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan kapasitas otak dan kecenderungan gaya belajar individu yang berbeda-beda. 




Daftar Pustaka
Abu ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar
Boby De Porter. 2005. et. Al. Terjemah Ari Nilandari, Quantum Teaching Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung: Kaifa
Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos. 2002. Revolusi Cara Belajar (the Learning
revolution): Belajar akan efektif kalau anda dalam keadaan “Fun”, (Bandung: Kaifa
Inti Anif Fujiati dan Sri Utami. 2014 Pengaruh Gaya Belajar Visual, Auditorial dan Kinestetik Terhadap Kemampuan Analisis Siswa. Jurnal Edukasi Matematika dan Sains, Vol. 2
Sugiyono dan Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran : Teori dan Konsep Dasar, Remaja Rosdakarya. Bandung
Sukadi, Progressive Learning,
Thontowi Ahmad , 1993.Psikologi Pendidikan, Angkasa, Bandung, Cet. III



[1] . Sugiyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran : Teori dan Konsep Dasar, Remaja
Rosdakarya, Bandung, 2011, hal. 16-40.
[2] . Bobby DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning: Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan
, hal. 110-111
[3] . Ibid., hlm.112.
[4] . Sukadi, Progressive Learning, hal. 95.
[5] . Abu ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, hal 85.
[6] . Ibid, hlm.100.
[7] . Inti Anif Fujiati dan Sri Utami, Pengaruh Gaya Belajar Visual, Auditorial dan Kinestetik
Terhadap Kemampuan Analisis Siswa,
, Jurnal Edukasi Matematika dan Sains, Vol. 2, 2014, hal. 1.
[8] . Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar (the Learning
revolution): Belajar akan efektif kalau anda dalam keadaan “Fun”
, (Bandung: Kaifa, 2002) , hal.
364.
[9] Boby De Porter, et. Al. Terjemah Ari Nilandari, Quantum Teaching Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas, (Bandung: Kaifa,2005), hlm. 85
[10] Ibid., hlm.86
[11] Ahmad Thontowi , Psikologi Pendidikan, Angkasa, Bandung, 1993, Cet. III, hal. 99-100.
[12]Op.cit,  Sugiyono dan Hariyanto, hal. 16-40.

Komentar

  1. bismillah, niat saya disini untuk membantu teman2 mohon komentar yang membangun dari kalian semua

    BalasHapus

Posting Komentar