MAKALAH STUDI ISLAM DENGAN PENDEKATAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
MAKALAH
STUDI ISLAM DENGAN PENDEKATAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Suatu tinjauan
sosiologis berarti sorotan yang didasarkan pada hubungan antar manusia,
hubungan antar kelompok serta hubungan antar manusia dan kelompok, didalam
proses kehidupan bermasyarakat. Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu
pendekatan dalam memahami agama.
Antropologi
adalah ilmu tentang manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah keseluruhan
pengetahuan manusia yang di peroleh sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk
memahami dan menginterpretasikan pengalaman dan lingkungan dan mendasari serta
mendorong tingkah lakunya. Seorang filsuf china: Lao Chai, pernah berkata bahwa
suatu perjalanan yang bermil-mil jauhnya dimulai dengan hanya satu langkah
langkah manusia yang di sebut filsuf itu tak lain adalah antropologi.beberapa
orang mungkin sudah pernah mendengarnya.beberapa orang mungkin mempunyai
ide-ide tentang Antropologi yang didapat melalui berbagai media baik media
cetak maupun media elektronik
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apakah Pengertian Antropologi ?
2.
Apakah Pengertian Sosiologi ?
3.
Bagaimana Pendekatan Antroplogi Terhadap Studi Islam ?
4.
Bagaimana Pendekatan Sosiologi Terhadap Studi Islam ?
5.
Bagaimana Model Penelitian Sosiologi Agama dan Model Penelitian
Antropologi Agama ?
C.
TUJUAN MANFAAT
1.
Agar Mengetahui Pengertian Antropologi.
2.
Agar Mengetahui Pengertian Sosiologi.
3.
Untuk Mengetahui Pendekatan Antropologi Terhadap Studi Islam.
4.
Untuk Mengetahui Pendekatan Sosiologi Terhadap Studi Islam.
5.
Untuk Mengetahui Model
Penelitian Sosiologi Agama dan Model Penelitian Antropologi Agama.
D.
BAB II
PEMBAHASAN.
A.
PENGERTIAN SOSIOLOGIS
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki
ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Tujuannya adalah untuk
mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama,cara terbentuk dan tumbuh serta
berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaan,
keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam
tiap persekutuan hidup manusia.
Sementara itu,
soerjono soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang
membatasi diri terhadap persoalan penilain.
Dari dua
definisi tersebut diartikan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang
menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta
berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.[1]
B.
PENGERTIAN ANTROPOLOGIS
Antropologi
adalah ilmu tentang manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah keseluruhan
pengetahuan manusia yang di peroleh sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk
memahami dan menginterpretasikan pengalaman dan lingkungan dan mendasari serta
mendorong tingkah lakunya. Tujuannya adalah untuk memperhatikan terbentuknya
pola-pola perilaku manusia dalam tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan
manusia.[2]
C.
PENDEKATAN SOSIOLOGIS
Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam
memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian
agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila
menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Karena, banyak sekali ajaran
agama yang berkaitan dengan masalah sosial, salah satunya ajaran agama islam.
Dalam bukunya Jalaluddin Rahmat yang
berjudul Islam Alternatif, telah menunjukkan betapa besarnya perhatian
agama yang dalam hal ini islam terhadap masalah sosial, dengan mengajukan lima
alasan sebagai berikut.
Pertama, Al
quran atau kitab-kitab hadits, proporsi terbesar kedua sumber huum islam itu
berkenaan dengan urusan muamalah atau sosial.
Kedua, Ditekannya
masalah muamalah (sosial) dalam Islam ialah adanya kenyataan bahwa bila
urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting,
maka ibadah boleh diperpendek atau di tangguhkan (tentu bukan ditinggalkan),
melainkan dengan tetap dikerjakan sebagaimana mestinya.
Ketiga, Ibadah
yang mengandung segi kemasyarakatan di beri ganjaran lebih besar daripada
ibadah yang brsifat perseorangan.
Keempat, Didalam
islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilauan tida sempurna atau batal,
arena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya (tebusannya) ialah melauan
sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial
Kelima, Didalam
Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyaraatan mendapat
ganjaran lebih besar dari pada ibadah sunnah.
Melalui
pendekatan sosiologis agama akan dapat dipahami dengan mudah,karena agama itu
sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam al-qur’an misalnya kita
jumpai ayat-ayat berkenaan dengan
hubungan manusia dengan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan
terjadinya kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang
memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran agama itu di turunkan.[3]
1.
Karekteristik Dasar Pendekatan Sosiologi
Teorisasi sosiologi tentang karekteristik agama serta kedudukan dan
signifiansinya dalam dunia sosial, mendorong untuk di tetapkan serangkaian
kategori sosiologis, meliputi:
a.
Stratifikasi sosial,seperti kelas dan etnisitas
b.
Kategori biososial, seperti seks, gander, perkawinan, keluarga,
masa kanak-kanak dan usia.
c.
Pola organisasi sosial meliputi politik, produsi ekonomis, sistem
pertukaran dan birokrasi
d.
Proses sosial, seperti formasi batas, relasi intergroup, interaksi
personal, penyimpangan dan globalisasi.[4]
2.
Obyek Kajian dalam Pendekatan
Sosiologi
Menurut M. Atho Mudzhar, pendekatan sosiologi agama dapat mengambil
beberapa tema atau obyek penelitian, seperti:
a.
Studi tentang pengaruh agama terhadap perubahan masyarakat.
b.
Studi tentang pengaruh struktur dan perubahan masyarakat terhadap
pemahaman ajaran atau konsep keagamaan.
c.
Studi tentang tingkat pengalaman beragama masyarakat
d.
Studi pola interaksi sosial masyarakat muslim.
e.
Studi tentang gerakan masyarakat yang membawa paham yang dapat
melemahkan atau menjunjung kehidupan beragama.[5]
D.
PENDEKATAN ANTROPOLOGIS
Pendekatan
antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya
memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan
dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan
memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan pula
untuk memahami agama.[6]
1.
Karakteristik Dasar Pendekatan Antropologi
Salah
satu konsep kunci terpenting dalam antropologi modern adalah holisme,yakni
pandangan bahwa praktik-praktik sosial harus diteliti dalam konteks dan secara
esensial dilihat sebagai praktik yang berkaitan dengan yang lain dalam
masyarakat yang sedang di teliti. Para antropolog harus melihat agama dan
praktik pertanian, kekeluargaan,politik, magic,dan pengobatan secara
bersama-sama. Maksudnya agama tidak bisa di lihat sebagai sistem otonom yang
tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sosial lainnya.[7]
2.
Obyek kajian dalam Pendekatan Antropologi
Secara
umum obyek kajian antropologi dapat dibagi menjadi dua bidang, yaitu
antropologi fisik yang mengkaji makhluk manusia sebagai organisme biologis, dan
antropologi budaya dengan tiga cabangnya: arkeologi, linguistik dan etnografi.
Meski antropologi fisik menyibukan diri dalam usahanya melacak asal usul nenek
moyang manusia serta memusatkan studi terhadap variasi umat manusia, tetapi
pekerjaan para ahli di bidang ini sesungguhnya menyediakan kerangka yang
diperlukan oleh antropologi budaya. Sebab tidak ada ke budayaan tanpa manusia.
Jika
budaya tersebut dikaitkan dengan agama, maka agama yang dipelajari adalah agama
sebagai fenomena budaya, bukan ajaran agama yang datang dari Allah. Antropologi
tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti
kepercayaan, ritual dan kepercayaan yang sakral,wilayah antropologi hanya
terbatas pada kajian terhadap fenomena yang muncul. Menurut Atho mudzhar, ada
lima fenomen yang dapat di kaji, yaitu:
1)
Scripture
atau naskah atau sumber ajaran dan simbol agama.
2)
Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap,
perilaku dan penghayatan para penganutnya.
3)
Ritus, lembaga dan ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan
dan waris.
4)
Alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya.
5)
Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan
berperan, seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Protestan,
syi’ah dan lain-lain.
Kelima obyek di atas dapat dikaji dengan pendekatan antropologi,
karena kelima obyek tersebut memiliki unsur budaya dari hasil pikiran dan
kreasi manusia.[8]
E.
MODEL PENELITIAN SOSIOLOGI AGAMA DAN ANTROPOLOGI AGAMA
1.
Model Penelitian Sosiologi Agama.
Diantaranya
model penelitian sosiologi agama, dilakukan oleh Robert N: Bellah dalam bukunya
yang berjudul Religion Eevolution:
American Sosiological Review (tahun 1964). Menurut hasil
penelitiannya, teori-teori dan penelitian tentang agama telah di buat orang
sejak ratusan tahun yang lalu, sejak zaman Herodotos, tetapi penelitian
terhadap agama yang di lakukan secara ilmiah dan sistematis baru di mulai sejak
pertengahan abad ke-19. Menurut Chantepie de La Saussaye (1904), munculnya
penelitian yang bersifat ilmiah ini karena adanya dua kondisi awal yang
mempengaruhi. Pertama, semasa Hegel, agama telah di jadikan objek
spekulasi filosofis komprehensif. Dan yang kedua, semasa Buckle, objek
di perluas lagi hingga meliputi sejarah peradaban dan ke budayaan pada umumnya.[9]
2.
Model Penelitian Antropologi Agama.
Penelitian di bidang antropologi agama antara lain di lakukan oleh
seorang antropolog bernama clifford geertz pada tahun 1950-an. Hasil
penelitiannya itu telah di tuliskan dalam buku berjudul The religion of
Java. Arti penting dari karya Geertz, sebagaimana di kemukakan Parsudi
suparlan adalah sumbangannya kepada pengetahuan kita mengenai
simbol-simbol.yaitu bagaimana hubungan
antara struktur-struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat dengan
pengorganisasian dan perwujudan simbol-simbol, bagaimana para anggota
masyarakat mewujudkan adanya integrasi dan disintegrasi dengan cara
mengorganisasi, dan mewujudkan simbol-simbol tertentu, sehingga
perbedaan-perbedaan yang tampak antara struktur sosial yang ada dalam
masyarakat tersebut hanyalah bersifat komplementer.[10]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki
ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi dapat
digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Sedangkan
Antropologi adalah ilmu tentang manusia dan kebudayaan. Pendekatan antropologis
dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama
dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam
masyarakat.
Beberapa Model
Penelitian yang pertama dilakukan oleh Robert N: Bellah dalam bukunya yang
berjudul Religion Eevolution:
American Sosiological Review (tahun 1964). Ia meneliti tentang
Sosiologi Agama, dan Penelitian di bidang antropologi agama antara lain di
lakukan oleh seorang antropolog bernama clifford geertz pada tahun 1950-an.
B.
SARAN
Demikian pemaparan makalah
Studi Islam dengan Pendekatan Sosiologi dan Antropologi. Menyadari bahwa
penulisan masih jauh dari kata sempurna, kritik dan saran sangat kami harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Nata
Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2010.
Khoiriyah, Memahami Studi Islam, Yogyakarta: Teras, 2013.
Olson Carl, Theory and
Method in the Study of Religion; a Selection of Critical Readings, canada:
Thomson Wadsworth, 2003.
Atho M.Mudzhar, studi Hukum Islam dengan Pendekatan Sosiologi,
Pidato Pengukuhan Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 15 september
1999.
https://adnansambas.wordpress.com/2013/11/05/pendekatan-antropologi-dan-sosiologi-dalam-studi-agama/ (diunduh 01 desember 2016 pukul 22:00)
https://syukririfai.wordpress.com/2012/12/16/antropologidalamstudiislam/(di unduh 01 desember 2016 pukul 22:15)
[1] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT Rajagrafindo
Persada, 2010, hlm. 38-39.
[2] Khoiriyah, Memahami Studi Islam, Yogyakarta: Teras, 2013, hlm. 90.
[3] Abuddin Nata, op.cit.,hlm. 39-41.
[4] Carl Olson, Theory and
Method in the Study of Religion; a Selection of Critical Readings, canada:
Thomson Wadsworth, 2003, hlm.229.
[5] M. Atho Mudzhar, studi Hukum Islam dengan Pendekatan Sosiologi,
Pidato Pengukuhan Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 15 september
1999
[6] Abuddin nata, op.cit., hlm. 35.
[7] https:// adnansambas.
Wordpress.com/2013/11/05/pendekatan-antropologi-dan-sosiologi-dalam-studi-agama/
(di unduh 01 desember 2016 pukul 22:00)
[8] https://syukririfai.wordpress.com/2012/12/16/antropologidalamstudiislam/
( di unduh 01 desember 2016 pukul 22:15)
[9] Abuddin nata, op.cit., hlm. 402
[10] Ibid., hlm. 395
Komentar
Posting Komentar